Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

Buku Kas - Aplikasi Rekapitulasi Keuangan

📊 Rekapitulasi Keuangan 📊 Rekapitulasi Keuangan Desa Kecamatan Kabupaten Provinsi Bulan Tahun Nama Lembaga/Organisasi Unit Kegiatan Transaksi Keuangan No Tanggal Tipe Uraian Harga Satuan (IDR) Volume Satuan Jumlah (IDR) Saldo (IDR) Aksi 1 Pemasukan Pengeluaran ...

Mi’raj: Imajinasi untuk Pengubah Keadaan



Oleh: Eman Suryaman

 

Peristiwa Isra' (perjalanan malam) dan Mi'raj (secara bahasa berarti tangga), merupakan fenomena kehidupan sejarah umat Islam. Di sana terbentang kisah-kisah unik, imajinatif dan penuh kreativitas tentang sosok Nabi Muhammad SAW yang "terbang" berkendaraan "buraq" menuju langit tujuh.

 

Peristiwa ini bukan urusan "believe or not" semata. Sebab, jika kajiannya hanya urusan itu, maka implikasinya akan menjebak pada sekadar urusan beriman (bagi yang percaya) dan kafir (bagi yang tak mempercayainya).

 

Isra' mi'raj harus ditafsirkan melalui apresiasi kreatif, melihat seorang individu (Nabi Muhammad SAW) yang dengan kepribadian unggulnya memiliki (mendapatkan) transendesi tinggi, yang kemudian mampu menerjemahkan ide-ide briliannya ke tengah masyarakat, bahkan apa yang di sampaikan olehnya, -karena ia merupakan sosok terpercaya- kemudian transendensi itu berubah menjadi imajinasi milik warga bagi masyarakat (ummatnya) di jazirah Arab, bahkan menginspirasi umat manusia di luar Arab dalam waktu yang panjang berabad-abad hingga sekarang.

 

Wajar kiranya jika kemudian seorang pemikir sejarah sosial seperti John L. Esposito dalam Ensiklopedia Oxford melukiskan kisah Isra-Mi'raj sebagai salah satu tema besar imajinasi rakyat dan elit Islam serta pelengkap tema besar lainnya, yaitu diturunkannya al-Quran.  Sebab kemudian, dengan pesan-pesan kewahyuan yang terus turun tersebut, masyarakat Arab melalui Nabi Muhammad kemudian mendapatkan bara' (cahaya) untuk penerang kehidupan.

 

Al-Quran yang secara harafiah berarti "bacaan" bisa menjadi guide, alat mapping, bahkan terposan paradigma dari luar (transendetal) untuk melihat sesuatu yang kala itu masyarakat Arab kebanyakan diombang-ambing oleh ketidakpastian imannya, ketidak jelaskan arah tuju hidupnya.

 

Dengan kehadiran al-Quran sebagai paradigma baru inilah masyarakat Arab terbebas ide-ide konvensional yang biasanya tidak memberi solusi atas persoalan hidup masyarakat yang lahir dari senandung ritmik (reka-reka) para penyair atau sikap ngawurnya para kahin (dukun/tukang sihir) di masa jahiliyah.

 

Lepas Sains, ke Tafsir Sosial

 

Isra' Mi'raj akan lebih bermakna bagi hidup kita sekarang jika ia ditafsirkan sebagai cara melihat problem dan kebutuhan manusia pada setiap zaman yang selalu membutuhkan ide-ide baru, gagasan terobosan, upaya untuk menemukan jalan keluar (berbuat ma'ruf), meninggalkan dan melawan realitas buruk (munkar) dengan modal tuma'nina billah (keyakinan transendental atau "ideologi").

 

Itulah mengapa seorang Filsuf, Muhammad Iqbal merasa bahwa pengalaman Mi'raj yang indah, fantastis dan imajinatif itu lebih sebagai tanggungjawab sosial kemanusiaan, urusan bumi, bukan urusan langit. Iqbal berpikir, jika urusan personal semata, maka Nabi barangkali akan lebih memilih tidak balik/turun ke bumi yang banyak problem, melainkan akan lebih memilih berasyik-masyuk  berada di langit bersama Tuhan selamanya.

 

Tetapi memang dalam dimensi keilmuan (utamanya filsafat dan sains), urusan Isra' Mi'raj ini tetap menarik, menjadi tantangan, karena di sana menyediakan altar lain, cakrawala imajinatif untuk ruang kreativitas untuk memecahkan teka-teki dan misteri ini dengan penyediaan metode baru dalam melihat realitas.

 

Hal ini penting karena sejauh ini, persoalan isra' -mi'raj dalam konteks sains masih belum keluar dari paradigma rasio-empirik dengan doktrin _trial and error_, atau belum keluar dari model penalaran observatif eksperimental sehingga mengalami kebuntuan saat merasionalisasi, karena memang peristiwa itu tak bisa diulang (dicoba lagi), tak bisa diobservasi melalui eksperimen ulang.

 

Namun, dalam urusan hidup kita memang kita tidak bisa terus-menerus bergantung sains. _Toh _pada kemajuan sains modern (sekalipun kita hargai sebagai keilmuan, bahkan kita hargai sebagai berkah Illahi) bukan berarti sains modern itu bebas masalah. Bahkan sains itu sendiri yang harus terus dikritik dan terus dikembangkan agar manusia tidak terjebak pada kesalahan-kesalahan hingga menyebabkan malapetaka sains.

 

Bahkan, seandainya peristiwa Mi'raj tersebut juga bisa dirasionalisasi secara saintifik, misalnya pada kasus kemampuan perjalanan Nabi Muhammad SAW, dengan kecepatan cahaya (prakiraan) 300.000 km/s, bisa jadi nanti akan muncul bantahan dalam bentuk rasionalitas sains yang lain.

 

Dengan kata lain, menunggu kepastian sains memecahkan misteri tersebut, tidak akan menjamin munculnya kebenaran tunggal. Selalu ada tafsir atas fakta, dan karena itu pada urusan Mi'raj memang lebih bermanfaat jika ditafsir dengan apa yang kita sebut dalam sains sosial sebagai imajinasi.

 

Kita tahu, dalam ruang lingkup ilmu sosial, imajinasi merupakan tonggak lahirnya sebuah pembaharuan, atau jalan baru kehidupan. Setiap tokoh-tokoh besar memiliki imajinasi. Setiap nabi membawa imajinasi.

 

Setiap Tokoh Membawa Imajinasi

 

Nabi Isa AS membawa imaji welas asih yang begitu kuat. Pesan-pesan cinta-kasihnya begitu mendalam. Sebagai tokoh yang kuat kepribadiannya, tegas dalam bersikap terhadap kemunkaran, dan sekaligus humanis kepada umatnya.

 

Nabi Musa dengan mentalilnya yang kuat mampu sanggup turun dari ruang kerajaan (Fir'aun) dan lebih mengabdi kepada bangsanya yang tertindas, menjadi inspirator gerakan kewargaan di mesir kuno, membawa ratusan ribu umatnya keluar dari belenggu penindasan panjang dengan imajinasi "kebangsaan" yang unggul.

 

Dan nabi Muhammad adalah sosok yang sangat berarti dalam diri kita tentang apa itu yang munkar (buruk) dan harus ditinggalkan, mana yang ma'ruf (baik) harus ditegakkan, dan pentingnya _tuma'nina billah_ (beriman kepada Allah) sebagai sarana manusia untuk tidak berpaling dari jalan hanif; yang selalu merindukan kebenaran dan kebaikan).

 

Imajinasi yang telah terbukti membawa sebuah kebaikan bersama itulah yang perlu direfleksikan secara mendalam, diserap substansinya, kemudian kita jadikan cara/model menggerakkan masyarakat agar terjadi perubahan sosial yang lebih baik.

 

Mi'raj Sosial-Kewargaan

 

Dengan Mi'raj Nabi tersebut sesungguhnya tersedia banyak pelajaran (ibrah) berharga tentang kematian ego (individu). Kesadaran Nabi sebagai manusia tentang hakikat hidup telah tuntas karena perjumpaan dengan yang lain (realitas alam lain) yang memberikan pelajaran untuk pencerahan bagi urusan bumi.

 

Dengan pengalaman "di dunia lain" itu Nabi mendapatkan sisi lain yang baru, menggetarkan, dan mengubah paradigma hidupnya, dan dari situlah pula karakter pribadi terbentuk secara khusus.

 

Dengan kata lain pula terdapat makna, bahwa seseorang bisa berubah karena faktor luar, bukan semata karena hijrah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan memang butuh hijrah batiniah (transenden) untuk perubahan diri. Kisah nabi mengendarai buraq (baraqa) yang artinya adalah "bercahaya sebagaimana kilat" bisa dimaknai sebagai pencerahan (ilumunasi).

 

Makna kontemporernya, dalam kita berinteraksi dengan manusia dan alam semesta di era modern sekarang ini, seyogyanya bermodal wawasan, pengetahuan yang tidak sekadar hanya menyerap pakem-pakem pengetahuan secara umum, melainkan harus kreatif mencari pengetahuan transendetal agar laku-hidup kita (tidak sesat dalam kegelapan, termasuk tersesat dari sains secara umum) sehingga mampu memberikan berkah/kebaikan bagi semesta.

 

Dalam pengertian itulah sebenarnya, Mi'raj juga berarti keharusan kita untuk selalu naik dari tangga satu ke tangga lain (yang lebih tinggi) sehingga setiap hari kita memang senantiasa harus mengejar prestasi untuk menghasilkan ke-ma'rufan' dan meninggalkan mengurangi ke-munkar-an sehingga semakin kuat ikatan iman kita pada yang esa.

 

Pada dimensi urusan sosial-kemasyarakatan, mi'raj berarti usaha keras untuk kita berbakti, berkhidmat secara terus-menerus dengan selalu membuka diri secara kreatif untuk menjawab persoalan urusan warga.

 

Kebuntuan demokrasi yang terjadi saat ini akibat sekadar urusan pemilu/pilkada harus diterobos dengan memperkuat dimensi demokrasi lain yang mungkin itu berat karena menyangkut urusan partisipasi, emansipasi dan menegakkan daulat rakyat melalui musyawarah (deliberasi).

 

Bagaimana menjadikan demokrasi itu mampu menyejahterakan rakyat, membawa keadilan sosial, dan memberdayakan warga secara beradab? Itu semua membutuhkan sikap transendetal dari diri kita, terutama para politisi, kaum intelektual, dan pimpinan organisasi sosial kemasyarakatan.

 

Pada urusan kemasyarakatan di organisasi juga perlu sekiranya kita ber-Mi'raj (menuju tangga kualitatif). Kemandulan gerakan organisasi, baik di organisasi kemasyarakatan (ormas), partai, mengelola bisnis, tak bisa kita berlaku tertutup sebagaimana kebiasaan mengumbar sikap cengeng menyalahkan realitas, apalagi menyalahkan sesama pengurus.

 

Tugas kita bukan berkeluh kesah sebab itu tidak menyelesaikan persoalan. Tugas utama kita bermasyarakat adalah menemukan ruang-ruang kreatif, selalu mencari imajinasi untuk terus menuju tangga yang lebih tinggi. Dan itu bukan semata kita sekadar berpikir, melainkan harus bertindak/beramal. Sebab dengan banyaknya tindakan justru sering mendapatkan banyak pengalaman yang akumulasinya nanti bisa menjelma teori/pengetahuan.

 

Tangga Kualitas

 

Hari selalu baru. Karena waktu memang terus berjalan. Tetapi hari baru dengan kualitas kehidupan kita tidak selalu terjadi karena apa yang disebut pembaharuan bukan sekadar mengikuti arus pergeseran kalender harian. Memang, berbuat atau tidak kita (secara natural) akan berubah. Tetapi perubahan alamiah bisa jadi menjelma kita sebagai spesies, atau hewan yang lahir, hidup, berkembang lalu punah.

 

Pelajaran dari Mi'raj, yakni tangga sebagai ilustrasi menandakan kita selalu dituntut untuk "naik" ke arah kualitatif. Karena itu dalam perjalanan hidup ini, upaya naik harus terus dilakukan sepanjang hayat. Naik secara ilmu, naik secara kepribadian, naik kesejahteraan, naik derajat dan keimanan kita, naik solidaritas sosial, naik bersama-sama membangun peradaban. Wallahu a'lam. [FM]

 

KH Dr Eman Suryaman MM, Ketua PWNU Jawa Barat 2011-2016

Artikel Terkait

Komentar

Artikel Populer

Kisah Siti Ummu Ayman RA Meminum Air Kencing Nabi Muhammad SAW

Di kitab Asy Syifa disebutkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW punya pembantu rumah tangga perempuan bernama Siti Ummu Ayman RA. Dia biasanya membantu pekerjaan istri Kanjeng Nabi dan nginap di rumah Kanjeng Nabi. Dia bercerita satu pengalaman uniknya saat jadi pembantu Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi Muhammad itu punya kendi yang berfungsi sebagai pispot yang ditaruh di bawah ranjang. Saat di malam hari yang dingin, lalu ingin buang air kecil, Kanjeng Nabi buang air kecil di situ. Satu saat, kendi pispot tersebut hilang entah ke mana. Maka Kanjeng Nabi menanyakan kemana hilangnya kendi pispot itu pada Ummu Ayman. Ummu Ayman pun bercerita, satu malam, Ummu Ayman tiba-tiba terbangun karena kehausan. Dia mencari wadah air ke sana kemari. Lalu dia nemu satu kendi air di bawah ranjang Kanjeng Nabi SAW yang berisi air. Entah air apa itu, diminumlah isi kendi itu. Pokoknya minum dulu. Ternyata yang diambil adalah kendi pispot Kanjeng Nabi. Dan yang diminum adalah air seni Kanjeng Nabi yang ada dal...

Bolehkan seekor kambing sebagai hewan qurban dari satu keluarga?

Bolehkan seekor kambing sebagai hewan qurban dari satu keluarga? Sejumlah mubaligh dan guru ngaji yang mengatakan bahwa dengan seekor kambing itu mencukupi sebagai qurban dari satu keluarga. Dalam hal ini ditangkap pesan bahwa satu keluarga menjadi “shahibul qurban” dari seekor kambing. Menurut empat mazhab anggapan ini adalah anggapan yang tidak benar. Kalimat “seeorang menyembelih kambing qurban untuk dirinya dan keluarganya” itu dibenarkan oleh sebagian ulama, bukan semua ulama dengan dua pengertian: Pertama, gugur perintah berqurban dari anggota keluarga shahibul qurban. Jika suami menjadi shahibul qurban maka perintah berqurban untuk isteri dan anak-anak itu sudah gugur. Demikian pula jika isteri menjadi shahibul qurban maka perintah berqurban untuk suami dan anak-anak itu gugur. Inilah makna dari hukum qurban adalah sunnah kifayah. Kedua, keluarga shahibul qurban ikut mendapatkan cipratan pahala qurban. Ini terjadi jika shahibul qurban pasang niat untuk mengikutsertakan keluargan...

Wasiat Al-Habib Umar bin Hafidz

قال الحبيب عمر بن حفيظ : لا تحمل هم الدنيا فإنها لله ، ولاتحمل همَّ الرزق فإنه من الله ، ولاتحمل هم المستقبل فإنه بيد الله .. فقط احمل همًا واحدًا : كيف  ترضي الله Al-Habib Umar bin Hafidz Berkata : "Janganlah kamu menanggung kebingungan dunia karena itu urusan Allah, Janganlah kamu menanggung kebingungan rizki karena itu dari Allah, Janganlah kamu menanggung kebingungan masa depan karena itu kekuasaan Allah. Yang harus kamu tanggung adalah satu kebingungan, yaitu Bagaimana Allah SWT Ridho kepadamu. [FM]

Qiyas Hudud Seks Sejenis Dengan Zina

Forum Muslim - Dalam kasus zina, dibedakan hukuman hududnya antara pelaku zina muhshan dan pelaku zina ghairu muhshan.  1. Pelaku Zina Muhshan  Mereka yang sudah pernah melakukan jima' syar'i sebelumnya, tentu bentuknya dalam perkawinan yang sah. Dengan kata lain sudah menikah. Kalau dia berzina, hukumannya adalah rajam, yaitu dilempari batu sampai mati. Asif berzina dengan seorang wanita dan Rasulullah SAW memerintahkan kepada Unais untuk menyidangkan perkaranya dan beliau bersabda : وَاغْدُ يَا أُنَيْس عَلىَ امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا Wahai Unais, datangi wanita itu dan bila dia mengaku zina maka rajamlah. (HR. Bukhari) 2. Pelaku Zina Ghairu Muhshan  Mereka yang belum pernah melakukan jima' syar'i sebelumnya. Artinya belum pernah menikah. Maka kalau dia berzina, hukumannya adalah cambuk 100 kali, sebagaimana disebutkan dalam An-Nur ayat 2 :  الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُ...

Dalil Kewajiban Memilih Calon Pemimpin Yang Bertaqwa

Seorang kawan baik bertanya tentang hadis soal memilih pemimpin, tapi saya memberi jawaban berbeda.

Doa Meminta Jodoh Versi Abu Nawas

Pada suatu hari seseorang datang kepada Abu Nawas, dia bercerita bahwa Dia sedang mencari jodoh, dan dia menyukai sosok wanita yang diidamkannya namun dia merasa malu mengungkapkan perasaanya kepada si wanita tersebut karena takut jawabannya malah penolakan. Untuk memantapkan hatinya maka si pemuda itupun meminta amalan kepada Abu Nawas yang merupakan gurunya. Abu Nawas manggut - manggut lalu mengambil secarik kertas, lalu dituliskanlah do'a mengharap jodoh untuk si pemuda itu. Abu Nawas berkata pada pemuda itu "baca ini dan amalkan setiap malam, bacalah berulang-ulang kali dengan kesungguhan hati maka jodohmu akan datang untuk bersedia menikahimu". Si pemuda merasa senang ia pun membaca secarik kertas yang berisikan do'a harap jodoh , namun dia mengernyitkan dahi kok do'anya serasa ada yang janggal ? isi do'anya begini : "Ya Allah, Tuhan pemilik jodoh, aku meminta padamu agar aku berjodoh dengannya, jika dia sudah berjodoh dengan orang lain pu...

3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup - Himayah atau Pemimpin Ulama di Tanah Banten

Forum Muslim - Banten merupakan provinsi Seribu Kyai Sejuta Santri. Tak heran jika nama Banten terkenal diseluruh Nusantara bahkan dunia Internasional. Sebab Ulama yang sangat masyhur bernama Syekh Nawawi AlBantani adalah asli kelahiran di Serang - Banten. Provinsi yang dikenal dengan seni debusnya ini disebut sebut memiliki paku atau penjaga yang sangat liar biasa. Berikut akan kami kupas 3 Ulama Paku Banten paling keramat yang masih hidup. 1. Abuya Syar'i Ciomas Banten Selain sebagai kyai terpandang, masyarakat ciomas juga meyakini Abuya Syar'i sebagai himayah atau penopang bumi banten. Ulama yang satu ini sangat jarang dikenali masyarakat Indonesia, bahkan orang banten sendiri masih banyak yang tak mengenalinya. Dikarnakan Beliau memang jarang sekali terlihat publik, kesehariannya hanya berdia di rumah dan menerima tamu yg datang sowan ke rumahnya untuk meminta doa dan barokah dari Beliau. Banyak santri - santrinya yang menyaksikan secara langsung karomah beliau. Beliau jug...

SISTEM AKUNTANSI BUMDES TERINTEGRASI (Auto-Jurnal & Manajemen Transaksi)

BUMDES Accounting System v4.0 – Integrated Auto-Journal & Transaction Module Sistem Akuntansi BUMDES - DOUBLE ENTRY SISTEM AKUNTANSI BUMDES - DOUBLE ENTRY (REVISI FINAL - FIXED) Dengan jurnal otomatis, navigasi keyboard, autocomplete, penjualan/pembelian terintegrasi, & pelunasan piutang/utang Informasi Modal & Prive Jurnal & Buku Besar Aset & Penyusutan Piutang & Utang Persediaan Penjualan & Pembelian Laporan Manajemen Informasi Umum Nama Desa Kecamatan Kabupaten Provinsi Nama BUMDES Unit Usaha Pengelola Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Tahun Periode Laporan Bulanan Triwulan Semester Tahunan Tanggal Mulai Tanggal Selesai Modal dan Prive Moda...

Surat Al Ma'un